WE Online, Sukabumi

Lucky bamboo (bambu hoki) atau dracena saat ini telah berkembang sebagai komoditas bernilai tinggi. Sampai-sampai pangsa pasar tanaman hias itu mampu menembus pasar Asia, Amerika, Eropa hingga Timur Tengah.

Anas Anis dari Poktan Alamanda yang diamanahkan menjadi penanggung jawab ekspor bambu hoki mengatakan, sekarang pihaknya hanya mampu mengekspor bambu hoki sebanyak 1 kontainer atau sekitar 29 ton per bulan. Padahal permintaan pasar luar negeri melebih itu.

Penanggungjawab ekspor bambu hoki, Anas Anis dari Poktan Alamanda menyebut, kini pihaknya cukup keteteran dengan permintaan yang ada. Pihaknya hanya mampu mengekspor bambu hoki kurang lebih 1-1,5 kontainer.

“Kami mendapat permintaan tiap bulan sebanyak 5 kontainer, tapi cuma bisa memenuhi 1,5 kontainer,” jelas Anas di sela-sela pelepasan ekspor bambu hoki dari Sukabumi ke Rusia dan Timur Tengah, Jumat (2/8/2019) yang juga dihadiri jajaran Kementerian Pertanian (Kementan).

Keterbatasan lahan budi daya bambu hoku disebut sebagai salah satu kekurangan yang belum dapat diatasi pihaknya. Saat ini dari Poktan yang ada hanya mengelola lahan seluas 6 hektar. Semestinya untuk bisa memenuhi permintaan 5 kontainer diperlukan lahan seluas 30 hektar.

Hal itu diartikan Anas sebagai peluang pengembangan bambu hoki dan dapat mengisi pasar ekspor cukup besar. Para pelaku usaha di Sukabumi setiap bulan mampu mengekspor 35 kontainer. Dalam tiap kontainer diisi 250 ribu batang bambu hoki.

Demi memenuhi permintaan pasar ekspor bambu hoki, Poktan Alamanda melakukan kerja sama dengan para petani. Bahkan mengembangkan sistem inti-plasma. Poktan Alamanda sebagai inti dan petani mitra sebagai plasmanya.

Anas tambah optimis melihat peluang bambu hoki Indonesia yang semakin laku di pasar mancanegara. Pasalnya, bambu hoki dalam negeri memiliki keunggulan dibanding produk negara lain seperti Tiongkok, Thailand dan India. Salah satu lebih tahan lama atau tidak cepat layu.

Kini, lanjut Anas, pemerintah memberikan kemudahan bagi pelaku usaha yang akan ekspor produk. Misalnya, dalam perizinan lebih cepat. Jika sebelumnya bisa sampai 2-3 bulan, sekarang hanya 3 jam. Dengan syarat dokumen telah lengkap.

Percepatan ini, ungkap Anas, adalah salah satu bentuk dukungan nyata pemerintah dalam memajukan produk dalam negeri.

“Pernah ekspor Dracena kita ke Belanda terhambat, tapi setelah lapor pemerintah langsung direspons cepat. Malam Jumat gangguan, paginya sudah clean,” katanya.

Selain itu ungkap Anas, pemerintah juga telah memberikan banyak bantuan untuk kelompok tani. Misalnya, bimbingan teknis, bantuan green house, packaging house dan mobil operasional. 

“Semua itu sangat membantu petani melakukan kegiatan usaha,” ujarnya.

Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman menyebut, sesuai arahan Menteri Pertanian yang terus mendorong peningkatan ekspor komoditas hortikultura, baik sayuran, buah dan florikultura, pihaknya juga mengajak pelaku usaha untuk mengisi pasar ekspor. Tanaman hias semakin digemari, karena beragamnya jenis yang ditawarkan

“Potensi ekspor tanaman hias masih terbuka lebar dan sangat menarik. Bukan hanya dari sisi estetika saja, tapi jenisnya cukup banyak, ada lebih dari 100 jenis,” tutur Liferdi.

Liferdi menegaskan pemerintah akan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha yang akan ekspor.

“Kalau ada pelaku usaha yang akan ekspor, kita bentangkan karpet merah. Jadi kita akan support, termasuk dalam kecepatan perizinan. Dulu sampai 8 Minggu, sekarang cukup 3 jam,” jelasnya.

Pemerintah, ungkap Liferdi, akan mengembangkan kampung Horti Untuk mendorong tumbuhnya usaha florikultura. Dengan adanya kampung Horti diharapkan akan memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

“Kampung Horti itu nantinya konsepnya jadi kampung wisata. Orang akan tertarik, kemudian merasakan dan membawa pulang. Dengan demikian perekonomian dan penghasilan kelompok tani akan meningkat,” pungkasnya.

Partner Sindikasi Konten: Okezone

Sumber Artikel