WE Online, Jakarta

Larangan menggunakan teknologi dari raksasa telco China Huawei justru akan membuat Eropa harus mengeluarkan biaya ekstra senilai US$62 miliar (sekitar Rp930 triliun). Di samping itu, Eropa harus menunggu lebih lambat 18 bulan dari yang seharusnya. Demikian analisis yang disampaikan oleh Reuters.

 

Analisis ini dibuat setelah AS memasukan Huawei ke dalam daftar hitam perusahaan yang harus dihindari oleh perusahaan-perusahaan AS dan sekutunya oleh Donald Trump. Perusahaan-perusahaan Eropa sendiri masih ragu-ragu, tapi tampaknya tidak mau melawan kehendak Trump.

 

Baca Juga: Facebook, Whatsapp dan Intagram Haram Ada di Ponsel Huawei

 

Perkiraan ini merupakan bagian dari laporan yang dibuat oleh GSMA, sebuah kelompok lobi di bidang telekomunikasi. Anggota kelompok ini adalah 750 operator selular di seluruh dunia.

GSMA sendiri sebenarnya sudah mengumumkan keberatannya jauh-jauh hari tentang konsekuensi dari pelarangan ini. Maklum, produk Huawei banyak dibeli dan dipakai oleh perusahaan-perusahaan Eropa.

 

Angka US$62 miliar dihitung akibat pelarangan Huawei berserta partner China-nya ZTE. Maklum, kedua vendor dari negeri tirai bamboo ini menguasai 40 persen pasar telco Eropa.

 

“Setengah dari biaya tambahan ini terjadi karena operator Eropa terkena dampak penambahan biaya yang diikuti oleh kekalahan bersaing dalam pasar peralatan mobile,” demikian kutipan laporan tersebut.

 

Baca Juga: Huawei Rilis Ponsel Anyar, Kok Masih Pakai Android?

 

“Sebagai tambahan, operator harus mengganti infrastruktur yang ada sebelum meng-upgrade jaringan 5G.”

 

Tapi pendapat ini buru-buru dibantah oleh Nokia, yang diuntungkan oleh pelarangan Huawei.

 

Baca Juga: Ditolak di AS, Huawei Malah Kembangkan Jaringan 5G ke Rusia

 

“Kami mampu menawarkan solusi di mana kami bisa mengimplementasikan jaringan 5G di atas infrastruktur 4G. Solusi ini bisa mengurangi biaya dan kompleksitas yang dihadapi vendor,” ujar Eric Mangan, juru bicara Nokia.

 

Sementar Huawei sendiri tidak mau mati gaya. Kini perusahaan ini sudah membuat kesepakatan dengan MTS, raksasa telco Rusia untuk menggelar jaringan 5G di Rusia.

Sumber Artikel