WE Online, Jakarta

Usai diterpa kabar pemolesan laporan keuangan tahun buku 2018, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membukukan laba sebesar US$24,11 juta untuk periode paruh pertama tahun 2019. 

Jika ditarik ke belakang, pada kuartal I 2019 lalu, Garuda juga membukukan laba sebesar US$20,48 juta sehingga sebetulnya tidak ada kenaikan laba yang signifikan dari capaian di kuartal II ini.

Baca Juga: Keren! 2 Perempuan Ini Jadi Pilot Pertama Garuda Asal Papua

Efisiensi menjadi faktor utama dari keberhasilan maskapai pelat merah Indonesia itu dalam menjaga kinerja keuangan. Hal itu terlihat melalui pos beban usaha yang turun dari US$2,10 miliar menjadi US$2,14 miliar. 

Melalui efisiensi tersebut, pendapatan Garuda ikut terdogkrak naik sebesar 9,74% secata tahunan, dari periode yang sama di tahun lalu sebesar US$1,99 miliar menjadi US$2,19 miliar di tahun ini. 

Baca Juga: Viral! Deretan Pujian Sarkasme Ala Dahlan Iskan Buat Garuda Nusuk Banget!

Sayangnya, peningkatan kinerja tersebut tidak direspons baik oleh investor di pasar modal. Hal itu terlihat melalui pergerakan saham Garuda yang justru terjelembab di zona merah.

Terhitung hingga pukul 11.39 WIB, saham Garuda terkikis 1,00% dari harga Rp400 per saham menjadi Rp396 per saham. Bahkan, beberapa waktu lalu, saham Garuda semapt jatuh hingga ke level terendah di Rp390 per saham. 

Memang, pergerakan saham Garuda terus terpuruk setelah kasus pemolesan lapkeu terkuak ke publik. Alhasil, dalam tiga bulan terakhir, saham Garuda amblas hingga 21,58%. 

Sumber Artikel