WE Online, Jakarta

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko mengaku senang karena organisasi tani ini lebih banyak diisi atau didominasi anak-anak muda. Mereka berusia antara 35-44 tahun dan sudah menjabat sebagai dewan pimpinan provinsi.

“Ini membanggakan. Jadi, kami menjawab keragu-raguan bahwa masih adakah petani muda Indonesia? Kami munculkan HKTI ini sebagai representasi anak-anak muda yang saat ini masih giat di pertanian,” kata dia kepada Warta Ekonomi belum lama ini. 

Para petani muda ini diharapakan tidak hanya berfikir bahwa bertani hanya berlumpur semata, melainkan juga melibatkan teknologi apalagi di era 4.0 saat ini. Misalkan terkait proses pascaproduksi, anak-anak muda bisa melakukan perdagangan, baik melalui e-commerce dan sebagainya.

Baca Juga: Rakornas HKTI Bahas Peluang Pertanian di Era 4.0

“Pemerintah juga telah membuka berbagai lahan baru, anak-anak muda ini mestinya juga bisa mengambil kesempatan agar lahan baru yang telah dibagikan, baik dalam konteks redistribusi lahan maupun perhutanan sosial, bisa dinikmati oleh anak-anak muda. Anak muda harus bisa berperan di segala bidang, tidak terkecuali pertanian,” tambah dia.

Para petani muda juga diharapkan turut menyelesaikan lima persoalan yang masih dihadapi dunia pertanian di Indonesia, meliputi lahan yang semakin sempit, permodalan yang masih terbatas, penerapan teknologi, manajemen produksi, serta pengelolaan pascapanen.

Data Survei Pertanian Antar-Sensus 2018 atau survei pertanian yang dilaksanakan BPS untuk menjembatani data Sensus Pertanian 2013 dan Sensus Pertanian 2023 menunjukan bahwa mayoritas petani (65,8% dari total 27,7 juta petani) atau sekitar 18,2 juta petani berusia lebih dari 44 tahun. Produktivitas seseorang sudah menurun cukup drastis pada usia sepuh itu.

Baca Juga: Kementan Dorong Petani Muda Kembangkan Hortikultura di Pinggir Bandara Soetta

Sumber Artikel