WE Online, Jakarta

Ketua Tim Cakra 19, Andi Widjajanto mengatakan Jokowi lebih memahami masalah TNI dibandingkan Prabowo. Alasannya, karena Jokowi lebih bisa menjelaskan dengan rinci tentang gelar baru TNI, yakni Komando Gabungan, dan pembentukan 3 divisi, Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di Gowa, Komando Angkatan Udara (Koopsau) di Biak, dan Armada di Sorong serta rencana gelar satuan terpadu TNI di Natuna, Morotai, Saumlaki, dan Biak.

Baca Juga: Prabowo Bilang TNI Rapuh, Nih Realitanya!

Jokowi, kata Andi, juga memahami paradigma investasi pertahanan yang mengubah belanja militer untuk pembelian senjata menjadi alokasi anggaran untuk membangun industri pertahanan.

“Ini menunjukkan Jokowi memiliki visi dan komitmen untuk menguatkan TNI untuk menghadapi Perang Teknologi-Perang Siber masa depan. Sementara, Prabowo cenderung tidak percaya teknologi,” tuturnya.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) ini menyebutkan bahwa Prabowo tidak paham intelijen strategis. Intelijen strategis merumuskan Perkiraan Keadaan (Kirka) dan membuat beberapa skenario keamanan negara.

“Kirka ini ditulis di beberapa produk strategis Kemhan dan TNI seperti Analisa Lingkungan Strategis yang dikeluarkan oleh Kemhan dan dibahas secara rutin di Rakor Intel di Kemhan dan TNI yang dilakukan setiap awal tahun untuk membantu perumusan kebijakan,” ucap Andi.

Sebagai mantan perwira yang lama bertugas di Kopassandha (Kopassus), ia mengaku aneh kalau Prabowo tidak paham fungsi intelijen strategis. Menurut dia, Jokowi lebih percaya TNI daripada Prabowo.

“Prabowo bilang para perwira cenderung ABS, seolah TNI bekerja tanpa didasari etos kerja dan evaluasi kinerja yang terukur. Prabowo tidak paham bahwa ada target pencapaian; Minimum essential force’ yang selalu dievaluasi per tahun yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan pembangunan kekuatan TNI sesuai Renstra 2024,” paparnya.

Ia menambahkan ucapan lebih TNI dari TNI menunjukkan arogansi Prabowo yang meletakkan dirinya di atas institusi TNI.

“Karir militer Prabowo yang melesat tidak normal karena bagian dari keluarga Cendana (dan berakhir juga tidak normal karena kasus penculikan aktivis 98) tampaknya membuat Prabowo merasa dirinya lebih penting dari organisasi TNI,” ujarnya.

Sumber Artikel